Memahami exposure dalam fotografi

Fotografi berasal dari bahasa Yunani, phōtos (cahaya) dan graphé (gambar). Jadi fotografi berarti menggambar dengan cahaya. Kita menggunakan kamera untuk menghasilkan sebuah foto. Untuk lebih memahami bagaimana cara kerja kamera dalam merekam sebuah gambar, silakan perhatikan gambar berikut ini.

Saat kita menekan tombol shutter, maka shutter akan terbuka, memaparkan sensor (atau film pada kamera analog) terhadap cahaya yang masuk melalui lensa kamera, sehingga obyek yang berada di depan kamera akan terekam di sensor kamera, untuk kemudian disimpan di media penyimpanan kamera.

Foto dari sebuah obyek akan tampak bagus jika memiliki tingkat terang/gelap yang tepat, tidak terlalu terang atau terlalu gelap, kurang lebih sama seperti bagaimana mata kita melihatnya. Tingkat terang/gelapnya sebuah foto ditentukan oleh exposure. Exposure adalah seberapa banyak sebuah sensor kamera dipaparkan terhadap cahaya. Paparan yang terlalu sedikit akan membuat foto jadi terlalu gelap, sedangkan paparan yang terlalu banyak akan membuat foto jadi terlalu terang. Exposure ditentukan oleh Aperture, Shutter Speed, dan ISO.

Aperture adalah bukaan diafragma lensa yang dibentuk oleh bilah-bilah diafragma (aperture blades) sebuah lensa. Dalam fotografi, aperture sering disingkat menjadi huruf “f”. Angka aperture pada setting kamera merupakan bilangan penyebut (f/x) jadi semakin besar angka aperture, semakin kecil celah yang dibentuk oleh bilah-bilah diafragma. Silakan perhatikan gambar aperture blades berikut ini. Semakin kecil bukaan diafragma, semakin sedikit cahaya yang dapat masuk menembus lensa dan mengenai sensor. Semakin besar bukaan diafragma, maka semakin banyak cahaya yang dapat masuk menembus lensa dan mengenai sensor dalam waktu yang sama. Sehingga untuk waktu pajanan yang sama, semakin kecil aperture (angka f makin besar) maka semakin gelap foto yang dihasilkan, dan semakin besar aperture (angka f makin kecil) maka semakin terang foto yang dihasilkan.

Shutter speed adalah durasi atau lama pajanan sensor terhadap cahaya. Jika kita mengatur shutter speed 1 detik, maka saat kita menekan tombol shutter, maka shutter akan membuka selama 1 detik dan memajankan sensor terhadap cahaya selama 1 detik. Jika kita mengatur shutter speed 1/30 detik, maka shutter akan membuka selama 1/30 detik. Silakan perhatikan kembali gambar anatomi kamera di atas untuk memahami bagaimana shutter membuka dan menutup saat memberikan pajanan cahaya kepada sensor. Semakin lama kita membuka shutter, maka semakin banyak cahaya yang mengenai sensor, sehingga foto yang dihasilkan akan semakin terang.

ISO adalah tingkat kepekaan sensor terhadap cahaya. Semakin besar angka ISO pada setting kamera, maka semakin peka sensor terhadap cahaya. Pada ISO yang besar, sedikit saja sensor dipajankan terhadap cahaya, maka sensor sudah bisa merekam gambar. Pada ISO yang kecil, sensor menjadi kurang peka terhadap cahaya, sehingga dibutuhkan pajanan yang lebih besar (memperbesar aperture, atau memperlama shutter speed) agar sensor dapat merekam gambar yang cukup terang.

Gambaran yang mudah dipahami mengenai aperture, shutter speed, dan ISO ditampilkan oleh ilustrasi berikut ini:

Pada gambar di atas, exposure yang pas pada sensor digambarkan seperti mengisi ember sampai tepat penuh, tidak kurang maupun tidak sampai tumpah karena kelebihan air. Aperture digambarkan seperti diameter keran, ISO digambarkan seperti ukuran ember atau wadah penampung air, dan shutter speed digambarkan seperti waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember tersebut sampai penuh.

  • Pada situasi 1, kita memiliki keran air dengan diameter tertentu, maka kita membutuhkan waktu tertentu untuk mengisi ember tersebut sampai penuh.
  • Pada situasi 2, kita mempunyai keran dengan diameter yang lebih besar, sehingga kita membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk mengisi ember tersebut sampai penuh.
  • Nah, jika kita tidak bisa memperbesar keran dan tidak punya waktu yang banyak seperti pada situasi 3, maka kita harus mengganti ember kita dengan yang ukurannya lebih kecil supaya diisi sebentar saja sudah penuh.

Beberapa contoh setting exposure

Under exposure

Dengan ISO (kepekaan sensor) yang rendah (ISO 100), aperture (bukaan) yang cukup sempit (f/9.0), dan shutter speed yang cukup cepat (1/320 detik), maka foto yang dihasilkan under exposure (pajanan sensor terhadap cahaya masih kurang).

Over exposure

Dengan ISO yang cukup tinggi (ISO 400), aperture yang lebar (f/2.8), dan shutter speed yang sama (1/320 detik), maka foto yang dihasilkan over exposure (pajanan sensor terhadap cahaya terlalu banyak).

Proper exposure

Dengan ISO, aperture, dan shutter speed yang tepat menghasilkan foto yang proper exposure (pajanan sensor terhadap cahaya cukup).

Creative Exposures

Aperture

Selain dengan exposure, aperture berhubungan dengan depth of field (DoF), yaitu seberapa lebar area yang focused (tajam) dari sebuah foto. Aperture yang lebar akan menghasilkan DoF yang sempit, aperture yang sempit akan menghasilkan DoF yang lebar. Setting ini dapat kita gunakan untuk membuat gambar di belakang point of interest (POI) menjadi bokeh (blur) secara artistik. Penjelasan mengenai POI dapat dibaca pada artikel saya mengenai Dasar-dasar komposisi dalam fotografi.

Morning Dew
Fuchsia
Butterfly at Tianmen Mountain

Ketiga foto di atas dipotret menggunakan aperture yang lebar, sehingga menghasilkan DoF yang sempit, obyek di belakang POI menjadi bokeh/blur.

Gedung Pencakar Langit

Foto di atas menggunakan aperture yang sempit, sehingga menghasilkan gambar yang tajam dari obyek yang paling dekat dengan kamera sampai yang paling jauh dari kamera. Bukaan yang sempit dan relatively slow shutter speed juga dapat membuat obyek bulat yang bersinar (lampu, matahari, dsb) menjadi seperti bintang yang bersinar, seperti foto berikut ini.

Sinar matahari menerobos Pagoda Kiyomizu-dera

Shutter Speed

Shutter speed yang amat cepat bisa membekukan gerakan cepat (freeze moment).

Pencak Silat Betawi (f/3.5; 1/320 detik)
Kumbang (f/4.5; 1/500 detik)

Shutter speed yang cukup cepat dapat menghentikan gerakan kumbang yang sedang terbang namun tidak terlalu cepat sehingga masih menampakkan gerakan sayapnya.

Shutter speed yang lambat dapat merekam obyek yang bergerak dalam waktu tertentu ke dalam satu frame.

Fireworks at Changsha (f/14; 4 detik)

Slow shutter speed dapat digunakan untuk merekam gerakan kembang api sejak meluncur dari tanah, meledak di udara, sampai percikan apinya menyebar seperti yang kita lihat dengan kedua mata kita. Semuanya terekam dalam satu frame.

Solving Rubik’s Cube

Slow shutter speed dapat digunakan untuk merekam seluruh gerakan menyelesaikan teka-teki Rubik’s Cube ke dalam satu frame foto.

ISO

ISO berhubungan dengan noise atau tingkat kehalusan foto. ISO yang tinggi akan menyebabkan sensor menjadi lebih peka terhadap cahaya, namun akan semakin tampak noise (foto tampak tidak halus).

Noise pada ISO tinggi
Hiroshima Castle

Turunkan ISO dan perlambat shutter speed akan menyelesaikan masalah ini. Namun penggunaan tripod merupakan suatu keharusan pada setting seperti ini.

Namun ada kalanya lebih baik kita mendapatkan foto dengan sedikit noise dari pada tidak dapat foto sama sekali. Seperti pada moment tiup lilin ini. Lighting nya cukup tricky. Kita tidak bisa menyalakan lampu ruangan atau menggunakan camera flash karena akan menghilangkan nuansa cahaya lilin. Kita harus membekukan gerakan agar tidak terjadi motion blur dari gerakan obyek yang sangat cepat. Berarti shutter speed harus cepat. Aperture harus dibuka lebar dalam kondisi low-light photography seperti ini. Langkah terakhir, terpaksa kita naikkan ISO agar sensor menjadi lebih peka terhadap cahaya.

Trik mudah untuk mendapatkan exposure yang tepat di era kamera digital

Penulis paling sering menggunakan mode Aperture Priority saat memotret. Tentukan DoF yang kita inginkan dari setting obyek yang ingin kita potret. Terjemahkan ini ke dalam setting aperture. Tentukan ISO dari available light yang ada, usahakan serendah mungkin agar meminimalisir noise. Metering ke obyek yang ingin kita foto. Jika shutter speed yang kita dapatkan terlalu lambat sehingga terjadi motion blur yang tidak diinginkan, naikkan ISO secukupnya. Bagaimana dengan Anda? Silakan tuliskan pendapat Anda di kolom komentar yang tersedia di bawah ini. Terima kasih.


Silakan baca juga…

Penulis
Penulis

Bagus Herlambang adalah seorang ayah, suami, fotografer, musisi, dan dokter bedah jantung, dalam urutan tersebut.

Potretbagus Signature

© 2019 Bagus Herlambang All Rights Reserved


Anda menyukai website ini? Ingin memiliki website atau blog seperti ini juga? Saya membuatnya dengan WordPress. Tidak sulit kok. Silakan kunjungi tautan ini untuk mempelajarinya lebih lanjut. Gratis, atau dapatkan kredit US$25 dengan semua tipe layanan berbayar dengan membelinya melalui tautan ini.

You like this website? Do you want to have a website or blog like this? I made it with WordPress, the best and beginner-friendly Website Builder. Visit this link to learn more about it. You can start your free blog or earn US$25 credit with any paid plan by sign up thru this link.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply